Pages

Selamat datang di blog Sunda Kecil, temukan berbagai data arkeologi, budaya lokal, serta spesifikasi Geografis di situs ini
Tampilkan postingan dengan label Prasejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasejarah. Tampilkan semua postingan

Sarkofagus Museum Buleleng





Sarkofagus Museum Buleleng

Koordinat : S 08 07 31,8 E 115 05 48,1
Elevasi : 89,5 m dari muka laut
Objek : Sarkofagus
Bahan : Batu Tufa (Tuff)
Masa/periodesasi : Prasejarah
Abad : Tradisi Budaya Megalitik
Tanda alami : Museum Buleleng
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Objek Museum

Diskripsi Objek :

Di halaman depan Museum Buleleng, Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng terdapat bangunan bercungkup sebagai tempat  penyimpanan sarkafagus-sarkofagus temuan di kebun masyarakat di tiga desa di Kabupaten Buleleng yaitu 1 berasal dari Desa Goblek, Kecamatan Banjar, 1 dari Desa Alas Angker, Kecamatan Buleleng, dan 2 dari Desa Selat Kecamatan Sukasada. Menurut I Made Parija (36 Thn, Pengelola Koleksi Museum Buleleng) disebutkan bahwa pengumpulan sarkofagus-sarkofagus ini di halaman Museum Buleleng dilakukan atas inisiatif tokoh masyarakat Buleleng dan Pemerintahan Kabupaten Buleleng. 

Masing-masing sarkofagus tersebut memiliki ukuran sebagai berikut.

Sarkofagus pertama yang berasal dari Desa Goblek, Kecamatan Banjar, terbuat dari bahan tuff, hanya terdiri dari bagian wadah dengan ukuran panjang 110 cm, lebar 67 cm, dan tinggi 62 cm. Di sisi luar sarkofagus, yaitu di kedua bagian lebarnya sisi luarnya terdapat tonjolan hiasan berupa sepasang telapak kaki yang dibuat sangat sederhana dan digambarkan secara vertikal dengan tinggi tonjolan hiasan dari dinding sarkofagus 3 cm. Sementara di sisi luar bidang lebar yang lian juga terdapat hiasan tonjolan berbentuk lingkaran  setinggi 3 cm dengan diameter 31 cm.

Sarkofagus kedua terdiri dari bagian wadah dan penutup yang sudah disekonstruksi kembali secara sederhana dengan mengikat masing-masing bagia yang terpisah dengan kawat sehingga bentuk utuhnya dapat dirangkai kembali. Sarkofagus ini berasal dari Desa Alas Angker, Kecamatan Buleleng. Sisa tanah yang masih menempel di dinding sarkofagus memberikan indikasi bahwa sarkofagus tersebut belum begitu lama disimpan di lokasi tersebut. Satu-satunya sarkofagus yang terlihat utuh ini terbuat dari bahan tuff, memiliki ukuran panjang wadah dan penutup 120 cm, lebar 63 cm, dan tinggi 60 cm. Di kedua sisi luar bagian wadah dan penutup terdapat sepasang tonjolan hiasan berbentuk persegi setinggi 8 cm dari dinding sarkofagus.

Sarkofagus ke tiga dan ke empat berasal dari Desa Selat, Kecamatan Sukasada. Sarkofagus pertama memiliki ukuran panjang 150 cm, lebar 93 cm, dan tinggi 51 cm. Dari ukurannya bila dibandingkan dengan sarkofagus-sarkofagus yang lain, tampak bahwa sarkofagus ini lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Corak hiasan tonjolan yang terdapat di sisi luar bidang lebar sarkofagus ini juga berbeda dengan yang lain yaitu hanya berberupa hiasan tonjolan berbentuk lingkaran setinggi 3 cm. Di satu sisi hiasan tonjolan berupa lingkaran tnggal, sementara di sisi luar bidang lebar yang lain hiasan tonjolannya dibuat ganda. Hanya satu diantaranya saat Sarkofagus yang ke empat yang juga berasal dari Desa Selat, Kecamatan Sukasada ini juga terbuat dari bahan tuff, berbentuk cukup utuh hanya berupa bagian wadah  dengan ukuran panjang 126 cm, lebar 65 cm, dan tinggi 47 cm. Di kedua sisi luar bidang lebar sarkofagus ini terdapat motif hiasan tonjolan yang berbeda. Di satu sisi berupa hiasan tonjolan berbentuk lingkaran dengan diameter 21 cm dengan tebal 6 cm dari dinding sarkofagus. Sementara di sisi luar bidang lebar yang lain berbentuk sepasang persegi yang dibuat secar vertikal setebal 4 cm dari dinding sarkofagus. 

Pura Melaka





Pura Melaka

Koordinat : S 08 07 24,6 E 11516 08,0
Elevasi : 413 m dari muka laut
Objek : Pura Kuno
Bahan : Andesit (berbentuk lembaran)
Masa/periodesasi : Prasejarah (Tradisi Budaya Megalitik)
Tanda alami : Kebun Jati Emas
Pemilik lahan : Made Suliawan
Pemilik Objek : Masyarakat Sembiran
Kondisi : Tidak Terpelihara
Pemanfaan sekarang : Tempat Upacara agama

Deskripsi Objek :

Secara administratif pura ini termasuk dalam wilayah administratif Banjar Malaka, Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula. Pura Malaka secara geografis berada di punggungan bukit yang telah diolah sebagai lahan perkebunan Jati Emas milik Made Suliawan (65 Tahun). Pura tersebut dibuat sangat sederhana tanpa pagar keliling dan tanpa pembagian halaman yang jelas seperti pura-pura yang lain. Bagian utama dari pura ini adalah pelinggih berdenah persegi panjang yang terbuat dari batu andesit lembaran, dan pelinggih pendamping berdenah bujursangkar yang juga terbuat dari susunan andesit lembaran.

Pelinggih utama memiliki ukuran panjang lebih kurang 4,2 m, lebar 3,6 m, dengan tinggi susunan andesit lembaran pembentuk undakan 70 cm. Bagian ini terbagi menjadi dua bagian, satu bagian kemungkinan diperuntukkan bagi pelaku upacara, sementara di bagian  yang lain difungsikan sebagai tempat meletakkan satu batu monolit yang juga terbuat dari bahan andesit berpenampang gilik berdiameter 27 cm dan tinggi 33 cm. Oleh Made Suliawan, pelinggih ini disebut sebagai Pelinggih Mertiwi. Pelinggih pendamping yang juga terbuat dari susunan batu andesit lembaran terletak lebih kurang 5 m di sebelah barat pelinggih utama. Pelingging ini berbentuk bujursangkar dengan panjang sisi 1,3 m dengan tingii dari permukaan tanah 10 susunan andesit lembaran atau lebih kurang 42 cm.

Upacara yang dilakukan oleh masyarakat Sembiran di Pura Malaka ini dilakukan setahun sekali yaitu pada Sasih Kelima (Bulan Hindu) atau sekitar bulan Desember Januari (Bulan Masehi). Disebutkan upacara di pura ini diikuti oleh selruh masyarakat Sembiran yang diiringi oleh musik gamelan dan dua tarian, yaitu Tari Baris dan Tari Rejang.

Sarkofagus Munduk Duur




Koordinat                                 : S 08 15 43,4 E 115 02 03,7
Elevasi                                                : 589,5 m dari muka laut
Objek                                      : Sarkofagus
Bahan                                      : Batu Tufa (Tuff)
Masa/periodesasi                    : Prasejarah
Abad                                        : Tradisi Budaya Megalitik
Tanda alami                            : Pura Munduk Duur
Pemilik lahan                          : Masyarakat
Pemilik Objek                         : Masyarakat
Kondisi                                    : Kurang Tertata
Pemanfaan sekarang             : Ibadah

Diskripsi Objek                        :

Di areal Pura Munduk Duur, Banjar Bale Agung, Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar pernah ditemukan lima sarkofagus. Sarkofagus-sarkofagus tersebut saat sekarang ditempatkan di bawah bangunan bercungkup di sebelah kiri halaman luar Pura Munduk Duur.  Dari angka tahun yang dibuat di teras tangga naik dari jalan kampung dituliskan angka tahun 1997, kuat dugaan bahwa kelima sarkofagus yang semuanya terbuat dari bahan tufa tersebut dikumpulkan di pura pada tahun tersebut. Sebelumnya sarkofagus-sarkofagus yang diinformasikan merupakan temuan masyarakat Desa Kayuputih tersebut tersimpan di halaman-halaman rumah penduduk. Kelima sarkofagus tersebut ditempatkan di bawah bangunan bercungkup tersebut secara berjajar dari kiri ke kanan di awali dengan fragmen sarkofagus, kemudian dua bagian wadah sarkofagus yang relatif utuh. Di sebelah kanan kemudian sarkofagus yang lengkap terdiri dari bagian wadah sebelah bawah dan bagian penutup. Di bagian paling ujung ditempatkan bagian wadah sarkofagus yang sebagian sudah hilang sisinya.

Fragmen sarkofagus yang ditempatkan di sisi paling kiri di bawah bangunan bercungkup tersebut merupakan bagian dari sarkafagus berukuran cukup besar. Dari bagian sarkofagus yang tersisa memiliki bentang lebar 120 cm dan tinggi 45 cm. Pada sisi wadah sarkofagus terdapat hiasan tonjolan berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter 20 cm dan tinggi tonjolan 2.5 cm.

Di sebelah fragmen sarkofagus terdapat bagian wadah sarkofagus yang relatif utuh, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Sarkofagus ini memiliki ukuran panjang 110 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 38 cm. Di masing-masing sisi luar sarkofagus juga terdapat hiasan tonjolan. Bentuk hiasan tonjolan yang cukup tegas adalah hiasan tonjolan berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter 17 cm dengan tinggi 2 cm, sementara hiasan tonjolan di sisi yang lain sangat sulit diidentifikasi karena sudah aus dan rusak.

Di urutan deretan ke tiga terdapat bagian wadah sarkofagus yang cukup utuh dengan ukuran panjang 120 cm, lebar 70 cm, dan tinggi 36 cm. Di kedua sisi luar sarkofagus juga terdapat hiasan tonjolan berbentuk lingkaran yang sudah aus dengan ukuran diameter 20 cm, dan sisi luar yang lain juga sudah sangat aus dan rusak sehingga sulit diidentifikasi bentuknya.
Sarkofagus di deretean ke empat dari kiri adalah sarkofagus yang utuh terdiri dari wadah bagian bawah dan wadah penutup. Sarkofagus tersebut memiliki ukuran panjang wadah  120 cm, lebar 70 cm, dan tinggi wadah 45 cm. Di kedua sisi bagian luar wadah terdapat hiasan tonjolan yang berbeda yaitu berupa hiasan sepasang telapak kaki dengan bentuk sederhana, sementara di sisi yang lain terdapat hiasan tonjolan lingkaran dengan diameter 24 cm. Untuk sisi luar bagian penutup yang dibuat dengan tinggi yang sedikit berbeda yaitu setinggi 47 cm juga terdapat hiasan tonjolan pada sisi luarnya yaitu berupa sepasang hiasan berbentuk persegi yang dibuat vertikal serta di sisi yang lain juga berupa hiasan tonjolan berbentuk lingkaran dengan ukuran dimater 28 cm.

Sarkofagus ke lima hanya berupa bagian dari wadah, terbuat dari bahan yang sama dengan sarkofagus yang lain yang juga terbuat dari tuff. Sarkofagus ini memiliki ukuran panjang 145 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 45 cm. Di sisi luar wadah terdapat hiasan tonjolan berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter 24 cm dan hiasan sepasang tonjolan berbentuk persegi.

Sarkofagus Tigawasa




Koordinat                         : S 8 06 E 115 09 39,33 
Elevasi                             : -
Objek                               : Sarkofagus
Bahan                              : Bongkahan batu
Masa/periodesasi            : Prasejarah (tradisi megalitik)
Abad                                :
Tanda alami                    : Kantor Balai Arkeologi Denpasar
Pemilik lahan                   : Masyarakat
Pemilik Objek                  : Masyarakat
Kondisi                             : Kurang Tertata
Pemanfaan sekarang     : Objek Penelitian

Diskripsi situs                  :

Situs Tigawasa terletak di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar. Di situs ini terdapat 2 sarkofagus  (Sarkofagus A dan B) yang saat ini disimpan di Balai Arkeologi Denpasar dan merupakan temuan yang dilaporkan masyarakat pada tahun 1974 yang kemudian ditinjau oleh Lembaga Purbakala Gianyar. Dahulunya sarkofagus tersebut ditemukan di halaman belakang rumah I Kirana di Banjar Wani, Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar. Pada saat peninjauan dilakukan disebutkan bahwa sarkofagus A dan B yang terletak terpisah dengan jarak lebih kurang 1 m tersebut telah mengalami pembongkaran dan isi bagian dalam sarkofagus telah kosong.

Sarkofagus Tigawasa dari segi bentuk sebagaimana dideskripsikan oleh R.P. Soejono dalan Disertasinya yang berjudul Sistem-Sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali (1977) memiliki bentuk agak khusus. Bidang depan tutup dan wadah memiliki satu tonjolan berbentuk gepeng dan bundar. Sementara itu pada bidang belakang masing-masing sarkofagus terdapat sepasang tonjolan dengan bentuk agak lonjong, serta sepasang tonjolan kecil berbentuk segi empat gepeng pada masing-masing sisi samping. Berbeda dengan sarkofagus B, sarkofagus A memiliki hiasan berupa goresan kepala manusia dengan memperlihatkan bentuk mata, hidung, mulut, anting-anting panjang, dan tangan yang menjulur ke arah samping.

Untuk penelusuran lebihlanjut tentang Sarkofagus Tigawasa pernah dilakukan penelitian berrupa kegiatan penelusuran kembali dan ekskavasi pada tahun 1975. Pada penelitian tahap pertama di Tigawasa dari tanah buangan bekas penggalian sarkofagus A berhasil ditemukan dua gigi geraham, fragmen tajak perunggu, sulur perunggu, fragmen benda-benda perunggu, fragmen benda-benda besi, satu manik-manik kaca berwarna biru, fragmen tulang manusia, dan beberapa fragmen gerabah dengan pola hias tera.

Sementara itu dari hasil ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1975 di lokasi penemuan Sarkofagus A masih menghasilkan beberapa benda yang dimasa lalunya besar kemungkinan berada di dalam wadah dan berfungsi sebagai bekal kubur dengan temuan berupa gelang perunggu, lempengan pentagonal dari bahan perunggu, sulur perunggu, anting-anting atau cincin , fragmen besi, beberapa butir manik-manik, dan fragmen tulang manusia.

Hasil penggalian Sarkafagus B memperlihatkan bagian tutup sarkafagus sudah pecah dan sebagian telah hilang. Hal ini menunjukkan bahwa Sarkofagus B sebelum penelitian dilakukan telah mengalami pembongkaran. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan, di dalam Sarkofagus B masih ditemukan beberapa fragmen tulang dan gigi manusia, fragmen sulur perunggu, dan beberapa fragmen benda-benda perunggu lain (Mahawira, 1975).

Sarkofagus Ponjok Batu





Lesung Batu Pura Ponjok Batu

Koordinat : S 08 05 39,3 E 115 16 20,6
Elevasi : 54,5 m dari muka laut
Objek : Lesung Batu
Bahan : Basalt
Masa/periodesasi : Prasejarah (Tradisi Megalitik)
Tanda alami : Pura Ponjok Batu
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah
Diskripsi situs :

Di areal Pura Ponjok Batu, Dusun Alas Sari, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula selain pura dan sarkofagus, juga tersimpan dua lesung batu yang ditempatkan dibagian bangunan yang berfungsi sebagai bangunan untuk pengolahan makanan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan upacara (odalan). Kedua lumpang batu tersebut terbuat dari batuan basalt berwarna kehitaman.

Lesung batu pertama berbentuk agak bundar dengan bidang permukaan tempat lubang lesung yang dibuat datar. Lesung batu ini memiliki diameter 42 cm, tinggi 33 cm, dengan diameter lubang lesung 22 cm dengan dalam lubang 19 cm, Sementara itu lesung batu kedua berbentuk agak persegi dengan ukuran panjang 45 cm, lebar 30 cm, dengan diameter lubang lesung 19 cm, dan dalam lubang lesung 17 cm.

Menurut Kadek Pasek (36 Tahun) pemandu wisata Pura Ponjok Batu, Lesung-lesung batu yang terdapat di pura tersebut hanya digunakan untuk menyiapkan bumbu dan makanan yang diperlukan pada saat-saat upacara (odalan) yeng dilakukan 3 kali dalam setahun, yaitu peodalan nebus geletek  atau melakukan upeti, peodalan Sasih Kedasa Kauh atau dista yang ditujukan untuk penghormatan pada Dewa Siwa atau Ratu Ngurah Meduwekarang, serta peodalan Sasih Kasa yang ditujukan untuk penghormatan pda Ratu Dewa Gede Ngurah.

Lesung Batu Singsing





Lesung Batu Singsing

Koordinat : E 081104,3 S 114 59 59.8
Elevasi : 21 meter
Objek : Lesung batu 
Bahan : Bongkahan batu
Masa/periodesasi : Prasejarah (tradisi megalitik)
Tanda alami : Pemukiman
Pemilik lahan : penduduk
Pemilik Objek : penduduk
Kondisi : baik
Pemanfaan sekarang : keperluan rumah tangga

Diskripsi :
Desa Kemukus, Kecamatan Gerokgak yang selama ini banyak dikenal masyarakat dengan air terjunnya, ternyata juga memiliki tinggalan lesung batu di tengah kehidupan keseharian masyarakatnya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sampai sekarang batu-lesung batu itu masih dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Lesung-lesung batu tersebut ditempatkan dibagian belakang rumah yang kadang langsung berdekatan dengan aktivitas dapur. Mungkin hal ni sangat terkait erat dengan keperluan praktis dalam mengolah bumbu-bumbu masakan untuk keperluan sehari-hari.

Lesung Batu Desa Sangsit





Lesung Batu Desa Sangsit

Koordinat : S 08 04 43,7 E 115 02 54.3
Elevasi : 170 meter dari permukaan laut
Objek : Lesung batu
Bahan : Batu Andesit
Masa/peeriodesasi : Prasejarah (Tradisi Megalitik)
Tanda alami : Pemukiman Masyarakat Sangsit
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Cukup tertata
Pemanfaan sekarang : Peralatan Harian dan Upacara 
Diskripsi objek :

Selain di Pura Beji Sangsit, di kawasan Dusun Sangsit, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, juga ditemukan lesung-lesung batu di halaman rumah-rumah penduduknya. Dari informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan tokoh masyarakat (Ketut Linus/61 tahun) dapat diketahui di masa lalu dikatakan setiap rumah memiliki lesung batu.

Berdasarkan hasil pengamatan di rumah-rumah penduduk yang masih memiliki lesung batu tersebut ada yang berukuran besar yaitu dengan ukuran diameter lebih dari 50 cm, dan juga ada yang berukuran kecil sehingga dapat dipindah-pindahkan. Bongkahan batu andesit yang digunakan untuk membuat lesung batu tersebut di antaranya ada yang diolah terlebih dahulu sehingga menghasilkan bentuk bulat mengikuti bentuk lubang lesung yang dibuat di bagian tengahnya, tetapi ada juga tanpa pengolahan terlebih dahulu, sehingga betuk lesung batunya sesuai dengan bentuk bongkahan batu andesitnya.

Lesung-lesung batu berukuran besar tersebut diantaranya ditempatkan di halaman terbuka, dan juga ada yang ditempatkan dekat dengan tunggu perapian atau dekat dengan tempat melakukan aktivitas memasak (Dapur). Mungkin hal ini berkaitan dengan fungsi dari lesung batu tersebut. Lesung-lesung batu yang ditempatkan di halaman terbuka berkaitan dengan kegiatan yang membutuhkan waktu yang cukup lama seperti mengolah padi menjadi beras, sementara itu lesung-lesung batu yang ditempatkan di dapur umumnya berkaitan dengan fungsi untuk pengolahan bumbu masakan.

Lesung Batu Pura Beji





Koordinat                     : S 8 0621,62 E 115 09 39,33
Elevasi                                    : 170 m dari muka laut
Objek                          : Lesung batu  dan pura
Bahan                          : Bongkahan batu
Masa/periodesasi        : Prasejarah (tradisi megalitik)
Tanda alami                : dipinggir jalan raya menuju pelabuhan Sangsit yang
dikelilingi oleh sawah
Pemilik lahan              : Masyarakat
Pemilik Objek             : Masyarakat
Kondisi                        : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah dan wisata
Diskripsi situs              :

Di Situs ini ditemukan lesung batu yang  merupakan salah satu peninggalan tradisi megalitik di Dusun Sangsit, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan yang terdapat di halaman Pura Beji Sangsit. Lesung-lesung batu tersebut terbuat dari bahan batu andesit yang ukurannya berbeda satu dengan yang lainnya dengan bentuk dan diameter lubang yang cukup simetris. Lesung batu pertama memiliki ukuran panjang 64 cm, tinggi 37 cm, dan lebar 59 cm, memiliki lubang berdiameter 21 cm dan kedalaman lubang dari bagian dasar hingga permukaan batu 24 cm.

Lesung batu kedua agak lebih besar dibanding lesung batu pertama yaitu dengan panjang batu 67 cm, tinggi 22 cm, dan lebar 59 cm, dengan diameter lubang lesung 20 cm dan kedalaman lubang dari permukaan hingga dasar lubang 17 cm. Sementara itu lesung batu ketiga memiliki ukuran panjang 44 cm, tinggi 28 cm, dan lebar 38 cm, serta diameter lubang 18 cm dan kedalaman lubang 19 cm. Lesung-lesung batu tersebut sampai sekarang disebutkan masih digunakan oleh masyarakat Pure Beji Sangsit, terutama pada saat mempersiapkan dan pengolahan bumbu-bumbu masakan yang dibutuhkan untuk mengolah bahan masakan yang digunakan pada saat upacara dilakukan di pura.

Cukup menarik informasi yang disampaikan oleh Ketut Limus (61 tahun) tokoh yang sehari-hari ikut mengurus pengelolaan Pura Beji Sangsit, menceritakan bahwa dahulunya sebelum mengenal pengolahan padi menggunakan mesin, masyarakat Dusun Sangsit mengolah padi menjadi besar melalui dua tahapan. Setelah padi hasil panenan dikeringkan melalui proses penjemuran di bawah terik sinar matahari, untuk melepas bulir-bulir padi dari tangkainya dilakukan dengan cara menumpuknya di lesung yang terbuat dari kayu.

Sementara itu untuk menjadikan padi menjadi beras dilakukan di lesung batu. Maka di setiap rumah penduduk di masa lalu memiliki lesung batu. Tetapi sekarang tidak banyak lagi yang memiliki lesung batu lagi yang mungkin terjadi karena fungsinya sebagai media pengolahan bahan makanan atau padi menjadi beras telah digantikan oleh teknologi yang lebih modern.

Lesung Batu Nangasepaha





Koordinat                     : S 08 09 01,0 E 115 07 23,2
Elevasi                                    : 198,5 m dari muka laut
Objek                          : Lesung Batu
Bahan                          : Andesit
Masa/periodesasi        : Prasejarah
Abad                            : Tradisi Budaya Megalitik
Tanda alami                : Toko Perajin Mute Ni Wayan Sri Rejeki
Pemilik lahan              : Ni Wayan Sri Rejeki
Pemilik Objek             : Ni Wayan Sri Rejeki
Kondisi                        : Terlantar
Pemanfaan sekarang : Terlantar
Deskripsi Objek          :

Di halaman rumah Ni Wayan Sri Rejeki yang termasuk dalam wilayah administrasi Dusun Delod Margi, Desa Naga Sepaha, Kecamatan Buleleng terdapat satu lesung batu yang tampak terlantar dan sudah tidak difungsikan lagi. Sama halnya dengan penempatan lesung-lesung batu di lokasi lain di daerah Kabupaten Buleleng, untuk rumah tinggal lesung batu diletakkan dekat dengan dapur.

Oleh karena tidak difungsikan lagi, saat sekarang bagian lubang lesung sudah ditutup dengan semen dan diletakkan dengan posisi datar dengan jalan yang terbuat dari pavin block. Lesung batu tersebut dari bidang yang tampak dipermukaan dapat diketahui bahwa lesung batu tersebut terbuat dari batu andesit tanpa pengolahan selain pembentukan lubang lesuk di bidang permukaan datarnya. Lesung batu tersebut memiliki ukuran panjang 45 cm, lebar 34 cm, dengan diameter lubang 17 cm. Karena tertutuk oleh lapisan semen, berapa ukuran dalamnya lubang lesung tidak dapat diketahui.

Besar kemungkinan dahulunya lesung batu tersebut berfungsi sebagai media untuk pengolahan bahan makanan baik untuk keperluan upacara maupun untuk pengolahan bahan makanan sehari-hari, akan tetapi karena adanya cara pengolahan bahan dengan menggunakan mesin maka kemudian fungsi lesung-lesung batu digantikan oleh mesin.

Lesung Batu Situs Sembiran






Koordinat : S 08 07 34,7 E 115 17 11,6
Elevasi : 403,5 m dari muka laut
Objek : Lesung batu
Bahan : Andesit
Masa/periodesasi : Prasejarah (Tradisi Budaya Megalitik)
Tanda alami : Rumah Tenun Ketut Landri
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Terpelihara
Pemanfaan sekarang : -
Deskripsi Objek :

Di halaman Rumah Ketut Landri yang termasuk dalam wilayah administrasi Banjar Kanginan, Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula terdapat satu lesung batu yang tampak terlantar yang dahulunya diceritakan berfungsi sebagai media untuk pengolahan bahan makanan baik untuk keperluan upacara maupun untuk pengolahan bahan makanan sehari-hari. Disebutkan oleh Nengah Sukiana (45 Tahun/Wakil Kepala Adat Sembiran) bahwa dahulunya di desa tersebut lesung batu sering dipergunakan untuk mengolah makanan pokok masyarakat yang terbuat dari bahan jagung, disamping untuk mengolah bahan-bahan makanan yang dibutuhkan untuk keperluan upacara (odalan).

Lesung batu yang terdapat di halaman rumah Ketut Landri, terbuat dari bahan andesit yang sudah mengalami pengolahan sedemikian rupa sehingga memberikan kesan bentuk blat. Lesung batu tersebut memiliki diameter 42 cm, tinggi 32 cm, dengan diameter lubang lesung 24 cm dan tinggi lubang 26 cm.

Lesung Batu Pura Ponjok Batu




Koordinat                     : S 08 05 39,3 E 115 16 20,6
Elevasi                                    : 54,5 m dari muka laut
Objek                          : Lesung Batu
Bahan                          : Basalt
Masa/periodesasi        : Prasejarah (Tradisi Megalitik)
Tanda alami                : Pura Ponjok Batu
Pemilik lahan              : Masyarakat
Pemilik Objek             : Masyarakat
Kondisi                        : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah
Diskripsi situs              :

Di areal Pura Ponjok Batu, Dusun Alas Sari, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula selain pura dan sarkofagus, juga tersimpan dua lesung batu yang ditempatkan dibagian bangunan yang berfungsi sebagai bangunan untuk pengolahan makanan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan upacara (odalan). Kedua lumpang batu tersebut terbuat dari batuan basalt berwarna kehitaman.

Lesung batu pertama berbentuk agak bundar dengan bidang permukaan tempat lubang lesung yang dibuat datar. Lesung batu ini memiliki diameter 42 cm, tinggi 33 cm, dengan diameter lubang lesung 22 cm dengan dalam lubang 19 cm, Sementara itu lesung batu kedua berbentuk agak persegi dengan ukuran panjang 45 cm, lebar 30 cm, dengan diameter lubang lesung 19 cm, dan dalam lubang lesung 17 cm.

Menurut Kadek Pasek (36 Tahun) pemandu wisata Pura Ponjok Batu, Lesung-lesung batu yang terdapat di pura tersebut hanya digunakan untuk menyiapkan bumbu dan makanan yang diperlukan pada saat-saat upacara (odalan) yeng dilakukan 3 kali dalam setahun, yaitu peodalan nebus geletek  atau melakukan upeti, peodalan Sasih Kedasa Kauh atau dista yang ditujukan untuk penghormatan pada Dewa Siwa atau Ratu Ngurah Meduwekarang, serta peodalan Sasih Kasa yang ditujukan untuk penghormatan pda Ratu Dewa Gede Ngurah.

Lesung Batu Pura Jagaraga




Koordinat                     : S 08 0621,6 dan E 11509 38,7
Ketinggian                   : 162,5 m dari muka laut
Objek                          : Lesung Batu
Bahan                          : Batu Andesit
Masa/periodesasi        : Prasejarah
Abad                            : Tradisi Budaya Megalitik
Tanda alami                : Pura Jagaraga
Pemilik lahan              : Masyarakat
Pemilik Objek             : Masyarakat
Kondisi                        : Terpelihara
Pemanfaan sekarang : Untuk pengolahan bahan upacara (odalan)
Deskripsi Objek          :

Pura Jagaraga terletak di Banjar Kangenteben, Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan. Lesung batu di pura Jagaraga terletak di halaman tengah dan merupakan bagian dari bale pewaregan. Lesung batu tersebut terbuat dari bahan andesit dengan bentuk yang hampir membulat dengan diameter bidang permukaan sekitar 52 cm, dan tinggi 41 cm. Di bagian tengah permukaan batuan terdapat lubang lesung berdiameter 23 cm dengan kedalaman lubang lesung sekitar 19 cm.

Lesung batu ini menurut pemandu, tidak dipergunakan dalam kegiatan sehari-hari yang berlangung di dalam pura. Lesung batu ini hanya dipergunakan dalam kaitan upacara keagamaan (odalan) yang berlangsung di dalam pura yang dilakukan oleh masyarakat Jagaraga.

Lesung Batu Situs Pacung




Koordinat                     : E 08 06 53,7 S 115 17 58,1
Elevasi                         : 54,5 meter dari permukaan laut
Objek                           : Lesung batu
Bahan                          : Batu andesit
Masa/peeriodesasi      : Prasejarah (Tradisi megalitik)
Abad                            : -
Tanda alami                : Rumah Tenun Surya Indigo
Pemilik lahan              : Nyoman Sarmika
Pemilik Objek             : Nyoman Sarmika
Kondisi                        : Tertata
Pemanfaan sekarang : Upacara
Diskripsi situs              :

Banjar Kubu Anyar yang merupakan bagian dari wilayah administratif Desa Pacung, Kecamatan Tejakula yang selama ini terkenal dengan industri tenun tradisional dan telah menghasilkan kain-kain tenun dengan kualitas baik, ternyata juga mengandung tinggalan budaya budaya masa lalu berupa tinggalan Lesung Batu. Besar kemungkinan lesung batu tersebut di masa lalu terdapat di setiap halaman rumah penduduk, akan tetapi seiring dengan perkembangan teknologi pengolahan baha makanan kemudian lesung-lesung batu yang tadinya digunakan untuk mengolah bahan makanan yang dilakukan dengan cara menumbuk kemudian ditinggalkan.

Seperti halnya dengan temuan lesung batu yang pernah ditemukan di kawasan lainnya di Indonesia, lesung batu yang terdapat di halaman rumah penduduk di Banjar Kubu Anyar terbuat dari bongkahan batu andesit. Saat sekarang lesung batu yang masih dapat dijumpai di halaman rumah penduduk seperti yang terdapat di halaman rumah di dekat rumah tenun tradisional Surya Indigo, milik Nyoman Sarmika sudah tidak difungsikan lagi. Lesung batu tersebut dibiarkan begitu saja, Lubang lumpang saat sekarang berisi air dan dijadikan sebagai wadah tempat tumbuhnya tanaman air

Lesung Batu Situs Julah



Koordinat                                   : E 08 06 53,7 S 115 17 58,1
Elevasi                                        : 359,5 meter dari permukaan laut
Objek                                          : Lesung batu
Bahan                                         : Batu andesit
Masa/peeriodesasi                  : Prasejarah
Tanda alami                              : Pemukiman kuno
Pemilik lahan                             : Masyarakat
Pemilik Objek                           : Masyarakat
Kondisi                                       : Cukup tertata
Pemanfaan sekarang               : Peralatan harian dan upacara
Diskripsi objek                         :

Desa Julah terletak sekitar 30 Km timur kota Singaraja, dan merupakan wilayah kecamatan Tejakula. Lesung batu dibuat dari bongkahan batu alam bisa berukuran kecil dan juga besar tergantung pada ukuran dan bentuk yang dibutuhkan. Di bagian tengah bongkahan batu tersebut dibuatkan lubang dengan ukuran yang cukup simetris dengan diameter antara 10 hingga 20 cm.

Dalam penggunaannya lesung batu tersebut disertai dengan alat lain yang berfungsi sebagai alat tumbuk (penumbuk). Alat penumbuk tersebut kadangkala terbuat dari batu yang biasa digunakan untuk menumbuk pada lesung-lesung batu berukuran kecil. Sementara untuk lesung-lesung dengan diameter lubang yang besar digunakan alat penumbuk yang terbuat dari bahan kayu.