Pages

Selamat datang di blog Sunda Kecil, temukan berbagai data arkeologi, budaya lokal, serta spesifikasi Geografis di situs ini
Tampilkan postingan dengan label Islam Kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Kolonial. Tampilkan semua postingan

SMPN I Singaraja



Situs : SMPN I, Singaraja
Koordinat : S  08 06 38,6 E  115 05 30,4 
Ketinggian : 34 meter dpl
Objek : Bangunan Indis
Masa : Kolonial
Lahan : Pekarangan
Pemilik lahan/objek : Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng
Pengelola : Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng
Kondisi : Sangat terawat
Pemanfaatan sekarang : SMPN I, Singaraja, Kabupaten Buleleng
Lokasi administrasi : Jl. Gajah Mada No. 109, Singaraja

Deskripsi objek

Sebagian bangunan depan yang berbahan kayu sudah dibongkar dan beberapa tiang kayu digantikan dengan tiang beton tetapi dinding, pintu, jendela, dan ventilasi masih memperlihatkan ciri bangunan colonial.

Bangunan menghadap ke arah timur. Secara umum bangunan telah mengalami perubahan. Perubahan ini terkait erat dengan pemanfaatan dewasa ini. Dahulu bangunan ini merupakan sekolah MULO, sekarang sebagai Sekolah SMPN I, Singaraja. Perubahan tersebut terlihat pada penggantian penutup atap yang terlihat baru. Perubahan yang lain adalah penambahan bangunan baru, terutama di bagian belakang untuk menambah lokal kelas. Mengingat bahwa sekolah ini merupakan salah satu yang diunggulkan di Singaraja. 

Pada bangunan bagian depan dilengkapi dengan 5 pintu, 10 jendela, dan 1 lorong yang menembus ke arah belakang bangunan. Masing-masing pintu dan jendela memakai 2 daun pintu dan 2 daun jendela. Untuk masuk ke kompleks harus melalui sebuah gapura baru yang berbentuk paduraksa. Setelah melalui gapura sampailah pada halaman depan yang cukup luas. Halaman ini sering digunakan untuk upacara, selain untuk olah raga footsal dan basket. Di bangunan bagian depan terdapat emperan sekolah. Emperan ini disangga oleh 16 tiang. Pada bagian tengahnya terdapat bangunan yang sedikit menjorok ke depan. Bagian ini mirip dengan “kuncungan” pada bangunan tradisional Jawa. Denah bangunan lama berbentuk seperti huruf E. Atap bangunan bentuknya seperti bertingkat, karena di bawah atap bagian atas terdapat atap lagi yang menempel pada dinding bangunan.

Rumah Guru MULO




Koordinat : S 08 06 36,9 E 115 05 30,2 
Ketinggian : 34 meter dari permukaan laut
Objek : Bangunan Indis
Masa : Kolonial
Lahan : Pekarangan
Kondisi : Tidak terawat
Pemanfaatan sekarang : Kosong dan tidak dimanfaatkan
Lokasi : Jl. Gajah Mada, Singaraja, Kab. Buleleng

Deskripsi

Di sebelah timur jalan atau berseberangan dengan SMPN 1 Singaraja terdapat rumah bangunan tradisional yang merupakan bangunan Indish dengan beberapa kekhasan bangunannya. Semua unsur bangunan masih terlihat asli dan belum ada perubahan, jika dilihat berdasarkan ukiran pada bagain depan rumah tersebut maka rumah tersebut dibangun pada tahun 1914.

Bangunan tersebut dahulu menjadi rumah tinggal guru bahasa inggris bernama Yakob (kewarganegaraan Belanda) yang mengajar di SMPN 1 Singaraja, tetapi sekarang sudah menjadi milik salah satu warga Singaraja.
Sebelah utara rumah tinggal tersebut masih terdapat rumah indis dengan tipe yang sama persis dan dibangun pada tahun yang sama 1914. Rumah tersebut dahulu menjadi kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) tetapi sekarang disewa dan dijadikan kantor Project Management Unit (PMU) kerjasama antara pemda Buleleng dan Uni Eropa untuk urusan keberlangsungan urusan irigasi pertanian.

Bangunan menghadap ke arah barat dan berhadap langsung dengan Sekolah SMPN I Singaraja. Bangunan ini pada bagian depan terdapat semacam tambahan yang menjorok ke depan. Bagian ini mirip dengan “kuncungan” pada bangunan tradisional Jawa. Setelah melewati bagian ini (kuncungan) terdapat 1 pintu. Pintu ini memakai 2 daun pintu dan jumlahnya rangkap. Daun pintu bagian depan bentuknya seperti pintu pada umumnya, sedangkan daun pintu bagian dalam memakai kaca tembus pandang. Di kanan dan kiri pintu masing-masing terdapat jendela yang berukuran cukup besar. Daun jendela ini sama seperti pada pintu masuk yaitu bentuknya rangkap. Denah bangunan seperti bentuk huruf T yaitu bagian belakang lebih lebar dari pada bagian depan. Atap bangunan ditutup dengan genteng. Lantai dibuat dari tegel dan masih dalam keadaan asli, berwarna kuning dengan ukuran 20 x 20 cm. Bangunan ini merupakan bangunan induk. Di sebelah utara bangunan utama terdapat bangunan lain sebagai pendukungnya. Bangunan ini berfungsi sebagai dapur, kamar mandi, dan kamar pembantu. Bangunan ini denahnya berbentuk empat persegi panjang yang memanjang dengan arah timur-barat. Bangunan ini atapnya berbentuk limasan yang itutup dengan genteng. Antara bangunan induk dengan bangunan pendukungnya dihubungkan dengan jalan yang beratap yaitu doorlop. Secara umum bangunan ini dalam keadaan rusak karena tidak ada penghuninya, sehingga tidak ada yang merawat.

Kantor Bupati Buleleng




Koordinat : S 08 07 30,8 E 115 05 34,7 
Ketinggian : 75 meterdpl
Objek : Bangunan Indis
Masa : Kolonial
Tanda alami : Pemukiman dan perkantoran
Lahan : Pekarangan
Pemilik lahan : Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng
Pemilik objek : Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng
Pengelola : Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng
Kondisi : Terawat
Pemanfaatan sekarang : Sebagai Kantor Bupati Buleleng
Lokasi : Kelurahan Banjar Tegal, Kec. Buleleng

Deskripsi

Kompleks kantor Bupati Buleleng secara keruangan terbagi atas 3 bangunan. Bangunan I. Banguan I merupakan bangunan induk. Bangunan ini sekarang difungsikan sebagai Kantor Bupati Buleleng. Merupakan bangunan yang denahnya berbentuk seperti huruf T, yaitu makin ke belakang semakin lebar dan memanjang dengan arah utara-selatan. Bangunan ini atapnya ditutup dengan genteng. Secara umum bangunan ini telah mengalami banyak perubahan, terutama bagian depan dan samping. Bangunan bagian depan disesuaikan dengan kebutuhan sebuah kantor yaitu dibuat tanpa sekat sehingga kelihatan luas. Untuk masuk ke bagian ini dapat lewat 3 sisi: sisi barat dengan 1 pintu dan 7 anak tangga, sisi timur ada 1 pintu dengan 6 anak tangga, dan sisi utara dengan tanpa pintu dan 6 anak tangga. Bangunan bagian depan dengan atap berbentuk limasan. Sekarang lantainya memakai porselin dengan ukuran 40 x 40 cm. Bangunan di belakangnya menyatu dengan bangunan bagian depan. Bangunan di bagian belakang yang masih menunjukkan keasliannya adalah pemakaian pintu dan jendela yang berukuran sangat besar.

Bangunan II. Bangunan ini berada di sebelah barat bangunan induk dan menghadap ke arah utara / kelod / laut yaitu langsung ke pelabuhan. Merupakan bangunan yang denahnya berbentuk seperti huruf L. Bangunan ini atapnya ditutup dengan genteng. Pada bagian depan terdapat emperan. Emperan ini ditopang dengan 10 tiang doria. Bagian depan memakai 2 pintu dan 6 jendela yang semuanya berukuran cukup besar. Masing-masing pintu dan jendela memakai 2 daun pintu dan 2 daun jendela. Bangunan ini sekarang dipakai untuk Kantor Legium Veteran. Lantai bangunan sekarang telah diganti dengan memakai keramik berukuran 30 x 30 cm. Cara pemasangan lantai ini ada dua, yaitu di pinggir dipasang secara tegak lurus, sedangkan yang di tengah memasangnya serong menyorong atau menyudut. Sementara bangunan yang menghadap ke timur memakai 2 pintu dengan ukuran yang tidak sama (besar dan kecil) dan 3 jendela. Kedua pintu dan 3 jendela masing-masing memakai 2 daun pintu dan 2 daun jendela. Bagian emperan bangunan ditopang oleh 2 tiang penyangga. Lantai telah diganti dengan keramik warna putih berukuran 30 x 30 cm dan pemasangannya secara tegak lurus. Di bagian pojok atap terdapat tambahan yang berfungsi sebagai lubang asap. 

Bangunan III. Bangunan  ini adalah sebuah bangunan indis yang menghadap ke arah timur. Bangunan ini terletak persis di sebelah utara bangunan nomor II. Bangunan ini berdenah empat persegi panjang yang memanjang dengan arah utara-selatan. Atap bangunan bentuknya menyerupai bentuk huruf U yang ditutup dengan genteng. Bangunan bagian depan dilengkapi dengan 1 pintu yang diapit dengan 6 jendela, masing-masing 3 di kanan dan 3 di kiri. Sementara di sebelah utara dilengkapi dengan 1 pintu dan 1 jendela. Seluruh pintu yang ada masing-masing memakai dua daun pintu. Demikian pula keadaannya dengan 7 jendela yang ada. Pintu di sebelah utara memakai semacam kuncungan seperti yang ada pada bangunan tradisional Jawa. Lantai bangunan sekarang elah diganti dengan keramik berwarna putih dengan ukuran 30 x 30 cm. Bangunan ini sekarang digunakan untuk Kantor Administrasi Veteran dan Cadangan IX / 19 Buleleng (KODAM).

Pelabuhan Sangsit




Koordinat : S 08 27 39.8 E 100 36 28.7
Elevasi (dpl) : 3 m dpl
Objek (BCB) : Bangunan belum terdaftar di BCB
Masa : Kolonial
Abad/tahun : XX
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik objek : Masyarakat
Pengelola : Masyarakat 
Kondisi : kurang terawat
Pamanfaatan sekarang : tempat ibadah agama Budha
Lokasi administrasi : Pelabuhan Sangsit

Deskripsi objek

Terdapat di Desa Sangsit Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Selain terdapat bangunan Pure, yaitu pura Beji, juga terdapat pelabuhan yang dikenal dengan sebutan pelabuhan Sangsit dan bangunan kuno. Pelabuhan Sangsit tersebut pernah menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal Belanda pada masa kolonial. Di sekitar pelabuhan ini ada beberapa bangunan sisa-sisa peninggalan kolonial Belanda, antara lain Gedung Syah Bandar / pabean, Runah tinggal Kapitein yang beretnis China, dan makam muslim.  Wilayah ini belum dimasukkan ke dalam kategori BCB dan tidak terawat, walaupun daerah ini telah dimanfaatkan sebagai objek wisata rekreasi

Jembatan Belanda




Koordinat : S 08 06 13.9 E 115 05 24.6
Eevasi (dpl) : 3 m dpl
Objek (BCB) : Bangunan Jembatan
Masa : Kolonial
Abad/tahun : XX
Tanda alami : Muara Sungai Buleleng
Pemilik lahan : Pemda Buleleng
Pemilik objek : Pemda Buleleng
Pengelola : Pemda Buleleng 
Kondisi : sangat baik
Pamanfaatan sekarang : Objek Pariwisata Pelabuhan Buleleng
Lokasi administrasi : Pelabuhan Buleleng Singaraja

Deskripsi objek

Jembatan berbentuk lengkung dengan didukung struktur kolom yang berbentuk kotak-kotak. Jembatan ini berbentuk lengkung dan terletak di Muara Sungai Buleleng. Bangunan ini sudah tidak digunakan dan sudah direnovasi. Berdasarkan informasi, Sungai Buleleng ini dahulu dilayari kapal-kapal kecil masuk hingga kampong di dalam terutama berkaitan dengan Masjid Kuno Keramat.

Klenteng Ling Gwan Kiong




Koordinat : S 08 06 13,5 E 115 05 23,0
Elevasi : 56 m dari muka laut
Objek : Klenteng
Bahan : Bata dan tanah
Masa/periodesasi : Kolonial
Abad : XIX
Tanda alami
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah dan wisata 

Diskripsi situs :

Terletak di pelabuhan Buleleng, Singaraja. Bangunan klenteng dibangun pada tahun 1873, pernah direhab pada tahun 1970 dan 2003. Bangunan induk masih asli sesuai bangunan semula. Dewa utama yang dipuja yaitu Tan Hu Tin Jin. Atap bangunan Klenteng dan gapura berbentuk ekor walet.

Kampung Muslim di Pagayaman




Koordinat : 08° 10’ 23,56” S dan 115° 08’ 13,15” E
Elevasi : 409 m dari muka laut
Objek : Mesjid dan pemukiman kuno
Bahan : Bata dan tanah
Masa/periodesasi : Islam
Abad : -
Tanda alami : Masjid, makam dan pemukiman
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah dan hunian 

Deskripsi

Merupakan salah satu desa Islam yang ada di Bali. Desa ini awalnya hutan yang diberikan kepada pengawal /pawang gajah Raja Buleleng. Gajah dan pawangnya merupakan hadiah raja Surakarta untuk Raja Buleleng.

Merupakan kampung dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Kekunoan di kampung tersebut ditandai dengan bangunan masjid, makam dan naskah kuno ( al-Qur’an tulisan tangan) , nama-nama tokoh (ulama ) selain menggunakan nama arab juga menggunakan nama Bali sebagai nama depannya, seperti Wayan, Nengh, Nyoman, dan Ketut. Serta diterapkannya model pembelajaran Al-Qur’an dengan bahasa Bali.

Makam Muslim Singaraja




Koordinat : S 08 06 19,1 E 115 05 26,8
Elevasi : 42,5 m dari muka laut
Objek : Makam
Bahan : Bata dan batu
Masa/periodesasi : Islam
Abad : -
Tanda alami : terletak di Jalan Merak Singaraja
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ziarah

Diskripsi situs :

Luas makam sekitar 1 hektar, tetapi area tersebut terdiri dari dua kompleks, yaitu kompleks makam Arab dan kompleks makam pribumi . Di dalam kompleks makam arab maupun pribumi ada dua makam yang dicurigai sebagai makam kuno, yaitu makam dengan nisan yang terbuat dari bahan andesit berbentuk gada, baik nisan  kepala dan nisan kaki  (di kompleks makam pribumi) dan  satu nisan di bagian kepala terbuat dari bahan batu cadas dengan bekas goresan yang diduga merupakan inskripsi pada makam (dikompleks makam Arab). Saat ini lahan ini digunakan sebagai makam muslim di Singaraja

Kompleks Makam Karang Rupit




Koordinat : S 08 10 38,5 E 114 59 53,9
Ketinggian (dpal) : 25 meter dpl
Objek (bcb) : Makam
Masa : Islam
Tanda alami : Persawahan dataran rendah
Lahan : Pekarangan
Pemilik lahan : H. Muntahar
Pemilik objek : H. Muntahar
Pengelola : H. Muntahar dan Hari Purwanto
Kondisi : Sangat terawat
Pemanfaatan sekarang : Sebagai tempat berziarah dan berdoa
Lokasi administrasi : Desa Temukus, Kec. Banjar, Kab. Buleleng

Deskripsi  

Pada awalnya, makam ini dikeramatkan oleh penduduk dengan penyebutan Keramat Makam Karang Rupit dengan 6 makam berbatu nisan. Lokasi mekam tersebut dahulu merupakan tanah pribadi milik bapak H Jafar seluar 47 are, tetapi sekarang hanya tersisa 3,5 are karena dijual.  Sejak tahun 2009 tanah yang tinggal 3,5 are mulai dikembangkan oleh Hari Purwanto (informan) menjadi lokasi ziarah kubur, sehingga makam yang sebelumnya hanya berupa gundukan tanah dan nisan diperbaiki  seperti yang terlihat sekarang dengan undakan untuk meninggikan makam utama. Sekarang makam ini dikelola oleh Yayasan Makam Keramat Makam Karang Rupit. Hingga saat ini, makam ini sangat ramai dikunjungi peziarah dari Jawa Timur karena menganggap bahwa tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut sebagai WALI PITU (wali tujuh) yang menyebarkan Islam sejak dahulu.

Seluruh makam yang ada di kompleks ini semuanya berada di dalam cungkup terbuka. Makam tokoh utama berada di bagian paling tengah. Cungkup ini merupakan bangunan baru. Atap bangunan berbentuk tumpang berjumlah 2 tingkat yang ditutup dengan genteng yang dicat dengan warna hijau. Atap cungkup makam ditopang oleh 12 tiang dari bahan cor semen. Makam yang ada seluruhnya berjumlah 9 makam dengan perincian: 2 makam ada di tengah, 4 makam ada di emperan sebelah barat, dan 3 makam ada di emperan sebelah timur. Letak kompleks makam ini persis berada di pinggir jalan raya Singaraja – Gilimanuk. Menurut penunggu makam dikatakan bahwa pada awalnya makam ini merupakan gundukan kecil. Kemudian sejak Juli 2009 pengelola makam berganti kepada pununggu yang sekarang. Lama kelamaan dengan dana sumbangan yang sedikit demi sedikit dikumpulkan akhirnya dapat membangun bangunan permanen seperti sekarang ini. 

Menurut cerita bahwa yang dimakamkan di sini adalah seorang penyebar agama Islam di kawasan Bali. Beliau merupakan seorang Cina Islam yang datang ke daerah ini dan meninggal di tempat ini. Nama lengkapnya adalah THE KWAN LIE atau sering disebut SYEH ABDUL QODIR MUHAMMAD.

Mesjid Agung Jami Singaraja



Koordinat : S 08 06 21,4 E 115 05 21,9
Elevasi : 53,5 m dari muka laut
Objek : Masjid
Bahan : Bata
Masa/periodesasi : Islam
Abad : XX
Tanda alami : Pemukiman di Jl. Imam Bonjol Singaraja 
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah 

Diskripsi :

Bangunan masjid telah mengalami beberapa kali perbaikan. Kekunaan yang masih tersisa adalah daun pintu gerbang masjid yang terdapat di tepi jalan Imam bonjol. Mimbar, inskripsi dan angka tahun 1210 diambang pintu ruang inti bangunan masjid dan 8 eksemplar naskah Al-Qur’an kuno tulisan tangan dan secara keseluruhan dalam kondisi tidak terawat. Tidak semua naskah lengkap tiga puluh juz tetapi ada dua naskah yang hilang satu juz (juz 1)dan hilang lebih dari satu juz Naskah ditulis diatas kertas Eropa dengan huruf dan berbahasa Arab. Bangunan ini dimanfaatkan sebagai tempat ibadah umat Islam dan belum ditetapkan sebagai BCB.
Arsitektur bangunan masjid bergaya colonial terutama terlihat pada bangunan menara masjid yang lama dan kolom-kolom tiangnya. Dibagian pintu bangunan terdapat prasasti yang menyebutkan pembangunan tahun 1820 M. Pintu depan (gerbang) merupakan sumbangan Raja Buleleng yang diambil dari Puri buleleng. Menyimpan beberapa Al Quran kuno tulis tangan. Al Qur'an Kuna tulisan tangan tahun 1860-an, milik Masjid Agung Jami Singaraja - Buleleng, Bali Utara. Ada sekitar 10-an Al Qur'an Kuna tulisan tangan di masjid ini, yang menurut info pengurus mesjid, salah satu Al Qur'an tersebut ditulis oleh Kerabat Raja Buleleng I Gusti Jelantik yang telah masuk Islam (mualaf).

Masjid Noor





Koordinat : S 08 06 17,1 E 115 0518,7
Elevasi : 53,5 m dari muka laut
Objek : Masjid
Bahan : Bata
Masa/periodesasi : Islam
Abad : XX
Tanda alami : Jl. Erlangga Singaraja
Pemilik lahan : Masyarakat
Pemilik Objek : Masyarakat
Kondisi : Tertata
Pemanfaan sekarang : Ibadah

Diskripsi :

Merupakan bangunan masa kolonial abad 20. Bangunan tersebut terletak di, pada jarak sekitar 200 meter di sebelah Baratdaya kompleks pelabuhan Buleleng, yaitu di jalan Erlangga Kota Singaraja, dengan pintu masuk dari arah barat di sisi selatan di bagian belakang bangunan masjid, di sudut timur laurt terdapat bangunan menara berbentuk silindris. Di sebelah timur terdapat bangunan ruko yang menghadap ke arah utara (jalan Erlangga) di sebelah selatan masjid terdapat rumah warga dan di sebelah barat terdapat satu jalan kampung dengan nama Gang Noor. Bangunan ini belum ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Terdapat bangunan menara bergaya kolonial dengan tiang-tiang bulat pada bagian puncaknya bergaya Yaman Selatan.