Pages

Selamat datang di blog Sunda Kecil, temukan berbagai data arkeologi, budaya lokal, serta spesifikasi Geografis di situs ini

Pura Melanting




Koordinat : S  08 09 35,3 E 114 40 52,8
Elevasi     : 69 dpl
Objek : Pura 
Bahan : Batu
Masa/periodesasi : Klasik Hindu (living monument)
Abad
Lokasi Administrasi   : Desa Banyu Poh, Kec. Gerokgak, Kab. Buleleng

Diskripsi Objek :

Pura Melanting adalah salah satu Pura yang dibangun untuk memperingati kunjungan istri seorang Pendeta Hindu dari Pulau Jawa, yaitu Danghyang Nirartha. Pura ini diyakini menjadi tempat di mana putri sulungnya, Ida Swabawa, berstana disini. Pura ini berada di kaki bukit Pemuteran, Bali Utara.

Pengunjung yang hendak melakukan sembahyang atau berdo’a di Pura Melanting ini dapat melalui dua arah, pertama melalu Pelinggih Pasar Agung yang nantinya dapat tembus ke halaman jeroan dan melanjutkan ritual upacaranya ke halaman jeroan, yang biasanya hanya dilakukan oleh beberapa orang yang membawa sesaji/banten; dan kedua untuk rombongan lainnya dalam upacara tersebut dapat melalui jalan utama dengan melalui tangga menuju gerbang berbentuk paduraksa.

Setelah melalui gerbang paduraksa dengan 34 anak tangga, akan masuk ke halamn yang merupakan area jaba tengah atau Madya Mandala. Di bagian dalam setelah melewati gerbang, terdapat bangunan berbentuk bale bengong dengan tangga tepat di depan gerbang. Bangunan ini dihias dengan empat ekor macan di setiap sudutnya yang bermakna sebagai penjaga kahyangan. Pada leher keempat binatang tersebut diberi kalung kain berwarna biru-merah, dan putih yang masing-masing sebagai pelambang: Dewa Wisnu, Siwa, dan Brahma. Adapun Fungsi bangunan ini, seperti halnya candi kelir di kompleks percandian di Jawa, sebagai aling-aling agar pandangan serta jalan tidak langsung menuju ke area jeroan

Setelah melewati pintu Pamedal Gedong, terdapat halaman ke-tiga yang merupakan area paling suci yaitu bagian jeroan atau utama mandala dari Pura Melanting di Pulaki ini. Pada halaman ketiga ini terdapat bale-bale yang berfungsi sebagai tempat meletakkan peralatan upacara, peralatan musik, atau untuk duduk menunggu, sebelum upacara dimulai. Biasanya hal tersebut dilakukan pada saat upacara-upacara besar. Setelah melalui bale-bale yang terdapat di kanan-kiri halaman, pada bagian ujung halaman jeroan inilah terdapat 3 pelinggih tempat bersthananya para dewa dan yang disembah. Ketiga objek bangunan tersebut menghadap ke timur.

0 komentar:

Poskan Komentar